Wednesday, 31 August 2016

Meizu Rilis Jam Pintar Tanpa Sistem Operasi

Setelah serangkaian bocoran, Meizu akhirnya resmi memperkenalkan jam pintarnya. Perangkat yang bernama Meizu Light Smartwatch ini tampil layaknya jam tangan konvensional nan klasik.

Meizu Rilis Jam Pintar Tanpa Sistem Operasi

Meizu Light Smartwatch tampil dengan desain bulat. Memiliki diameter 42 mm dengan ketebalan 12 mm. Perusahaan asal China itu menyelimuti permukaan jam pintar ini dengan kaca sapphire.

Sementara bodinya menggunakan baja solid 316L. Alhasil, Light Smartwatch memiliki durabilitas yang cukup mumpuni.

Berbeda dengan jam pintar yang ada di pasaran, Light Smartwatch tidak dibekali sistem operasi. Walau demikian perangkat ini dilengkapi sejumlah sensor untuk memantau aktivitas pengguna.

Adapun sensor yang disematkan meliputi three-axis gyroscope, accelerometer dan magnetic. Pengguna dapat melihat data aktivitasnya melalui aplikasi khusus yang sudah disiapkan oleh Meizu.

Kian lengkap, Meizu menyematkan Bluetooth 4.0, baterai dan berkapasitas 270 mAh. Selain itu jam pintar ini dibuat anti air. Pengguna dapat menggunakan Light Smartwatch hingga di kedalaman 99 kaki atau sekitar 30 meter.

Meizu memasarkan jam pintarnya ini lewat laman crowdfunding Taobao. Untuk harganya sendiri disesuaikan dengan jenis strapnya. Untuk strap nylon dibanderol 999 yuan atau sekitar Rp 1,9 juta.

Sedangkan varian leather dilepas seharga 1.299 yuan atau Rp 2,6 juta. Sementara varian chain strap 1.499 yuan atau Rp 2,9 juta, demikian detikINET kutip dari Gizmochina, Jumat (19/8/2016). (afr/rou)

Thursday, 25 August 2016

Menyiksa Galaxy Note 7

 Sebagai ponsel paling powerful saat ini, tentu banyak yang penasaran dengan kemampuan fisik Samsung Galaxy Note 7. Lantas bagaimana nasib Note 7 setelah disiksa sedemikian rupa?

Menyiksa Galaxy Note 7

Jerry Rig Everything coba menguji ketangguhan dari phablet terbaru besutan Samsung. Instrumen yang dilakukan sama seperti jajaran ponsel yang telah diuji sebelumnya.

Pertama, uji coba penggoresan. Ia menggoreskan obeng dengan sembilan tingkatan pada layar yang terlindungi Gorila Glass 5. Cukup mengejutkan pada tingkat ketiga sudah timbul goresan tipis.

Menurut Jerry, ini cukup mengecewakan. Sebab Galaxy Note 7 sudah menggunakan Gorilla Glass terbaru tapi ketahanan akan goresan dibawah Galaxy S7 dan bahkan pendahulunya, Galaxy Note 5.

Selanjutnya, Jerry menggunakan pisau cutter untuk menggores di sejumlah bagian. Pada tombol home terjadi bekas goresan. Dan kondisi tersebut membuat sensor sidik jari bermasalah.


Kemudian Jerry menggores bagian kamera belakang. Tidak terlihat bekas goresan sama sekali. Hal yang sama ketika menggores bagian frame metal.

Hanya saja saat menggores bagian flash LED dan S-Pen terlihat bekasnya. Ini dikarenakan meterial yang digunakan berbahan plastik. Sementara tombol S-Pen dapat bertahan saat digores karena dibuat dari bahan metal.

Tes berikutnya layar ponsel coba dibakar mengunakan korek api. Setelah 8 detik, layar Galaxy Note 8 timbul putih. Hebatnya dalam waktu singkat kembali normal ketika sumber panas dipindahkan.

Jerry memuji Samsung karena membuat jajaran ponsel flagshipnya punya bodi yang kokoh. Pada bend test, Galaxy Note 7 dapat bertahan tanpa ada bengkok sedikit pun.

Untuk lebih jelas, berikut video lengkap pengujian Galaxy Note 7.

Sunday, 21 August 2016

Proyektor Protable LG Boyong Fitur Triple Wireless

LG bakal meramaikan panggung IFA 2016 dengan mambawa dua proyektor LED portable barunya. Perangkat ini bakal membawa fitur Triple Wireless, apa itu?

Proyektor Protable LG Boyong Fitur Triple Wireless

Dua proyektor LG ini memiliki kode PH450U dan PH150G. Perangkat ini dihadirkan dengan menitikberatkan pada tiga hal yaitu kenyamanan, portabilitas dan pengalaman penggunaan.

Menjadi proyektor Ultra Short-Throw (UST), LG PH450U memiliki kemampuan menampilkan gambar dalam jarak 33 sentimeter (13 inchi) dari layar. Selain itu dapat memproyeksikan gambar pada bidang datar hingga berdimensi 80 inch dengan resolusi 1.280x720 pixel.

Sementara LG PH150G punya kemampuan seperti LG PH450U. Namun LG mendesain proyektor ini dengan begitu compact, dimensinya 115x115x44,5 mm dengan bobot 450 gram. Alhasil memudahkan mobilitas penggunanya untuk membawa maupun memindahkannya sesuai kebutuhan.

Seperti sudah disinggung di muka, proyektor ini punya fitur Triple Wireless. Fitur ini memiliki dua aspek, pertama bebas dari sambungan listrik.

Kedua proyektor ini dapat beroperasi dengan menggunakan baterai yang dapat diisi ulang dengan ketahanan hingga 2,5 jam.

Aspek kedua adalah koneksi konten. Adanya pilihan koneksi Bluetooth, MHL, USB dan WiFi memudahkan pengguna mengoneksikan konten ke kedua proyektor ini.


LG mengklaim kedua proyektor ini memiliki ketahanan pemakaian LED hingga 20 ribu jam. Ini artinya PH450U dan PH150G dapat bertahan hingga 10 tahun pemakaian.

LG PH450U ini akan tersedia mulai September di Eropa dan Amerika Utara. Sementara LG PH150G akan mulai bergulir di berbagai negara di belahan Amerika Utara, Eropa dan Asia di bulan yang sama secara simultan.

Sayang, perusahaan yang berbasis di Korea Selatan itu tidak menyebut berapa harga yang dipatok untuk kedua proyektornya itu. (afr/ash)

Ada Masalah Apa Xiaomi?

Apa yang salah dengan Xiaomi? Sempat jadi anak emas di jagat smartphone, penjualan mereka malah terus merosot, demikian pula dengan nilai perusahaan. Apa penyebabnya?

Ada Masalah Apa Xiaomi?

Dikutip detikINET dari IBTimes, Jumat (19/8/2016), melesatnya Xiaomi terutama karena mereka bisa menjual smartphone hardware premium yang harganya jauh lebih murah di kelasnya. Tapi keunggulan ini tak bertahan lama. Banyak vendor mengekor strategi serupa.

Terlebih lagi, para kompetitor kadang melakukan inovasi sambil tetap menjaga harga tetap rendah. Sebut saja Oppo dan OnePlus mengusung teknologi isi ulang cepat atau Huawei dengan dual kamera. Sedangkan Xiaomi seolah jalan di tempat alias begitu-begitu saja.

"Saya pikir pertumbuhan Xiaomi di jagat smartphone memang mentok di saat kompetitor dengan riset dan pengembangan serta distribusi lebih baik melampaui mereka. Ketidakmampuan Xiaomi berinovasi dengan independen adalah salah satu alasannya," kata Neil Shah, analis di CounterPoint Research.

Masalah lain adalah Xiaomi terus saja fokus pada smartphone murah dengan produk seperti Redmi. Padahal konsumen, terutama di China, terindikasi sudah mau membayar lebih untuk membeli smartphone yang lebih baik.
CEO Xiaomi Lei Jun (getty images)

Gagal Ekspansi

Di sisi lain, salah satu alasan investor sangat pede Xiaomi bisa terus meroket adalah karena pada awalnya, Xiaomi hanya beroperasi di beberapa negara Asia saja. Bayangkan jika sudah masuk Amerika Serikat atau Eropa misalnya, Xiaomi bisa jadi pemain global.

Sayang Xiaomi tak punya bekal paten teknologi cukup untuk masuk negara maju itu. Sampai kini Xiaomi tak kunjung masuk ke sana, mungkin khawatir kena gugatan hukum. Sebagai catatan, penjualan Xiaomi sempat diblokir di India terkait masalah paten. Kegagalan Xiaomi melakukan ekspansi pasar pun jadi salah satu sebab kemerosotan.

Kemudian alasan lain dari yang sudah disebutkan, fanatisme penggemar Xiaomi ternyata tak sebesar yang diperkirakan. Xiaomi berulangkali membanggakan soal ini, bahwa mereka saling bertukar pikiran dengan fans fanatiknya yang berjumlah banyak.

Namun sebenarnya konsumen, khususnya di China, tidak terlalu loyal lagi soal brand. Menurut studi biro riset Bain & Company, vendor di China harus terus merayu konsumen agar membeli produk mereka, jadi bukan brand yang dikejar-kejar.

Xiaomi sebenarnya coba mengusung strategi lain dengan menyebut diri perusahaan internet yang tak hanya menjual ponsel tapi beragam perangkat lain. Strategi yang terlihat pintar mengingat pertumbuhan pasar smartphone global mulai stagnan. Tapi, investasi Xiaomi di area selain smartphone belum juga berhasil.

Penelitian dari CounterPoint Research mengindikasikan lebih dari 85% pendapatan Xiaomi berasal dari penjualan smartphone, kemudian dari software dan layanan. Sehingga bisnis di bidang lain memang belum signifikan.

Melihat beragam kondisi kurang mengenakkan itu, Xiaomi yang sering dijuluki Apple of the East ini dinilai harus segera berbenah jika tidak ingin semakin tenggelam. Bila tidak, bisa jadi mereka malah akan menjadi BlackBerry of the East. (fyk/ash)

Motorola Tuding Samsung Curi Fitur Always-On Display

Salah satu fitur yang ada di Galaxy Note 7 adalah layar Always-On Display (AOD), dan Motorola menuding kalau itu adalah fitur curian.

Motorola Tuding Samsung Curi Fitur Always-On Display

Menurut Motorola, fitur tersebut sudah mereka gunakan di Moto X generasi pertama, seperti yang mereka kicaukan dalam akun Twitter resminya, @Moto_USA. "In what galaxy is it okay to steal competitor phone' cool features? #TheOriginalAlwaysOnDisplay #motozdroid," tulis Motorola.

Samsung sebenarnya sudah menggunakan fitur AOD sejak mereka merilis Galaxy S7. Namun di Note 7, fitur tersebut ditingkatkan kemampuannya, sehingga bisa menampilkan lebih banyak notifikasi, juga bisa dipakai untuk mencatat menggunakan S-Pen, dan sejumlah hal lain.

Sementara Motorola juga mempunyai fitur sejenis yang mereka namakan Active Display, dan dipakai di Moto X generasi pertama yang diluncurkan pada tahun 2013. Namun sebenarnya Motorola juga bukan vendor pertama yang menggunakan fitur sejenis ini.

Saturday, 20 August 2016

Ketika Investor Xiaomi Salah Prediksi

Xiaomi sempat jadi anak emas di jagat smartphone. Bahkan rasanya belum lama mereka adalah salah satu startup termahal di dunia, nilai perusahaan atau valuasinya di kisaran USD 45 miliar, tepatnya di tahun 2014. Namun belakangan, Xiaomi terindikasi keteteran dan valuasi itu sudah jauh merosot.

Ketika Investor Xiaomi Salah Prediksi

Investor Xiaomi di masa awal sebenarnya memprediksi Xiaomi akan terus melonjak hingga mencapai valuasi USD 100 miliar alias lebih dari dua kali lipat. Memang pada saat itu, Xiaomi seakan tak dapat terbendung, produknya banyak dibicarakan, laris pula di mana-mana.

"Di semua benchmark, Xiaomi mencapai hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hal kecepatan pertumbuhan," sebut salah satu investor terkenal Xiaomi, Yuri Milner.

Prediksi Yuri hampir selalu tepat. Ia menanam dana di Facebook pada tahun 2009 dan jadi miliarder ketika Facebook berjualan di lantai saham pada tahun 2012. Kemudian ia berinvestasi juga di Alibaba sebelum perusahaan e commerce itu meraksasa.

Sayangnya, prediksi Yuri untuk Xiaomi salah. Dikutip detikINET dari IB Times, saat ini nilai perusahaan Xiaomi sudah merosot jauh dari masa keemasan itu, kurang dari USD 4 miliar menurut penelitian Richard Windsor selaku analis industri dari Nomura Securities.
Yuri Milner.

Market share Xiaomi di pasar smartphone tergerus, sedangkan bisnis perangkat lain semacam rice cooker sampai action cam belum banyak menghasilkan. Bisnis smartphone Xiaomi sudah beberapa kali tidak bisa mencapai target penjualan.

Menurut data terakhir dari biro riset IDC, penjualan Xiaomi di China pada kuartal II 2016 anjlok 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal di periode itu pasar smartphone China tumbuh 4,6%. Kompetitor berat Xiaomi di saat yang sama membukukan lonjakan penjualan. Terutama Huawei, Oppo dan Vivo.

Dan di masa depan, belum ada indikasi kalau Xiaomi akan membalikkan keadaan. Ini tentu menjadi warning bagi Xiaomi agar cepat berbenah. "Saya tidak melihat Xiaomi akan mengalami recovery dalam waktu dekat," sebut Jan Dawson, analis senior di Jackdaw Research.